PERAN KYAI WAHAB HASBULLAH DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN

Konseptualisasi Awal

     Kiai Wahab Hasbullah merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang lahir di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1881 atau 1884. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun kelahirannya, kontribusi dan pemikiran beliau tetap menjadi pijakan penting dalam perkembangan Islam dan kebangsaan di Indonesia.

       Sewaktu kecil, Kiai Wahab menerima pelajaran dasar-dasar Islam dari ayahnya sendiri sampai berusia 13 tahun, baik mengenal pelajaran membaca Al-Qur’an, ilmu tauhid, fiqih dan sedikit ilmu tasawuf, begitu juga pelajaran bahasa Arab. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Langitan, Tuban, berguru kepada Kiai Soleh. Antara umur 15-17 tahun beliau berguru di pesantren Nganjuk, yaitu pesantren Mojosari di bawah bimbingan Kiai Zainuddin, menantu K. Soleh, dan di Pesantren Cepaka (Cepoko Nganjuk). Kiai Wahab kemudian mencari ilmu di Pondok Tawangsari, Sepanjang. selama setahun (saat berusia 17 tahun akhir, jelang 18 tahun). Kemudian Kiai Wahab memutuskan pergi belajar ke Madura, kepada Kiai Muhammad Khalil, Bangkalan.         Pada tahun 1914 Kiai Wahab Hasbullah bersama Kiai Mas Mansyur mendirikan sebuah kelompok diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar atau potret pemikiran. Kemudian Kiai Wahab Hasbullah juga membentuk Islam Study Club di surabaya. Selain berhasil menarik kalangan pemikir Islam tradisional, keberadaannya juga menarik minat para tokoh pergerakan lain termasuk para tokoh nasionalis-sekuler seperti pendiri dan pemimpin organisasi Budi Utomo, Dr. Sutomo. Kemudian mendirikan kelompok kerja yang dinamakan Nahdlatul Wathan atau kebangkitan tanah air.

      Di saat Perang Dunia II meletus dan Jepang menguasai Hindia Belanda, para ulama terus berijtihad agar kemerdekaan RI segera terwujud. Memanfaatkan kelemahan Jepang yang terjepit oleh sekutu meski penindasan Jepang begitu kejam terhadap rakyat, para ulama mencoba membangun persiapan-persiapan menyongsong kemerdekaan. Jepang memahami, kalangan Islam sangat penting dan memiliki posisi strategis, karenanya Jepang berupaya merangkul Islam, khususnya Islam-tradisional. Dalam konteks inilah laskar Hizbullah dibentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan RI dan setiap muslim untuk membela tanah air dan mempertahakan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari serangan penjajah. Pertempuran 10 November 1945 meletus, laskar ulama santri dari berbagai daerah di garda depan pertempuran. Resolusi Jihad juga membahana di Semarang dan sekitarnya, bahkan telah mengiringi keberhasilan dalam Perang Sabil Palagan Ambarawa. Para laskar ulama santri juga terus melakukan pertempuran mempertahankan daerahnya masing-masing termasuk di tanah Pasundandan daerah-daerah lainnya.

       Kiprah santri dalam membela negara tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada tahun 1943-1945 hampir semua pondok pesantren membentuk laskar-laskar, dan yang paling populer adalah laskar hisbullah dan sabilillah. Bahkan peristiwa peristiwa pelawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, pada umumnya dipelopori oleh para Kiai sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji. Pada 21 oktober 1945, berkumpul para Kiai se-jawa dan madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 oktober 1945 dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”. Laskar Hizbullah dan Sabilillah didirikan menjelang akhir pemerintahan Jepang, dan mendapat latihan kemiliteran di Cibarusah, sebuah desa di kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual Kiai Hasyim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh Kiai Zaenul Arifin. Adapun Laskar Sabilillah dipimpin oleh Kiai Masykur.

     NU berhasil menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI serta pemerintahan yang sah. Hal ini dibuktikan dengan peringatan Harlah ke-40 NU pada tahun 1966 yang dihadiri ratusan ribu masa di Jakarta, menunjukkan dukungan nyata terhadap Presiden Soekarno. Dalam situasi krisis tersebut, KH. Wahab Chasbullah tampil sebagai tokoh sentral. Kepemimpinannya yang tegas dan kemampuannya membaca zaman membuatnya disegani, bahkan oleh Soekarno yang menganggapnya sebagai guru dan penasihat politik. Saat tokoh-tokoh PKI tak berdaya menghadapi krisis, Kiai Wahab tetap tegar dan mampu mengendalikan keadaan melalui prinsip persatuan yang selalu ia ajarkan kepada kader NU.[1]


[1] MIFTAHUL MUNIR, JUSAN: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Indonesia Volume 01 Nomor 02 Desember 2023

Anda mungkin juga suka...

Artikel Populer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *